Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Manifestasi Akhlak: Menanamkan Cinta Pada Khilafat Sejak Dini

Memiliki anak merupakan karunia yang amat besar bagi setiap pasangan, terlebih bagi seorang wanita yang dikodratkan menjadi perantara lahirnya manusia ke bumi oleh Sang Khalik. Tidak berhenti di mengantarkan seorang ‘manusia baru’ ke bumi ini saja, tetapi mengandung, juga menyusuinya merupakan kodrat seorang wanita yang peranannya tak bisa digantikan oleh lelaki.

Tak heran, mengapa Islam menempatkan wanita pada kedudukan paling mulia, sebab selain menjadi pembentuk garis keturunan, kehadirannya merupakan penentu terciptanya generasi mukhlis. Selaras dengan pernyataan bahwa wanita (para ibu) merupakan madrasah pertama dan pendidik utama bagi anak-anaknya.

Namun, menyandang peran ibu tidaklah mudah. Banyak sekali tugas serta tanggung jawab yang tidak ringan untuk dilakukan. Terlebih bagi kita, seorang Lajnah, yang merupakan wanita pilihan, sudah seharusnya kita menjadi wujud nyata seorang khairu ummah (umat terbaik) agar menghasilkan generasi yang ber-akhlaqul karimah.

Wanita Ahmadi dituntut lebih unggul dalam menjalani peranannya sebagai ibu dalam memberikan tarbiyat kepada anak-anaknya, sebagaimana sabda Hazrat Khalifatul Masih IV (rta):

“Seorang perempuan Ahmadi harus mampu memenuhi harapan Rasulullah saw dalam menciptakan sebuah gambaran surgawi di dunia ini. Dia harus mampu menjadi sumber daya tarik dan kebahagiaan bagi rumahnya, dimana ia menjadi poros dan para anggota keluarganya berputar mengelilinginya. Mereka tidak mendapatkan kenyamanan di luar melainkan mendapatkan kedamaian dan ketenangan dalam rumah mereka.”

 

Tanamkan Kecintaan pada Khalifah Sejak Dini

Sama halnya dengan memberikan ASI sebagai nutrisi terbaik bagi tumbuh kembang anak, memberikan pendidikan karakter terhadap anak juga merupakan nutrisi terbaik bagi rohaninya. Memupuk kecintaan anak-anak terhadap Khalifah menjadi kunci utama dalam membentuk karakter, adab dan akhlak mereka.

Karena melalui cara demikian, mereka akan selalu taat pada nizam Khilafat dan akan selalu berada di dalam syariat Islam, sehingga mengantarkannya pada budi pekerti yang luhur karena dekat dengan Rabb-nya pun terikat dengan aturan-Nya. Ketika anak menempatkan Khalifah di hati, mereka akan membawa cintanya itu kemanapun ia menggerakan kakinya. Rasa cintanya akan berbanding lurus dengan perilaku dan tindakannya.

Menanam dan menumbuhkan kecintaan pada Khalifah merupakan proses terpanjang yang dilalui orangtua, khususnya seorang ibu. Di samping kesabaran dan ketelatenan, memberikan contoh adalah hal penting yang perlu dilakukan pertama kali.

Lazim dijumpai, orangtua hanya memberi perintah tanpa memberi contoh terlebih dahulu. Tidak jarang, orangtua dengan lugas meminta anak mengaji, sedangkan ketika anak meminta ditemani ia berkata nanti. Padahal, anak merupakan peniru andal, sekali ia mencintai sesuatu/seseorang, ia akan mengikuti apapun yang dilakukan orang terkasihnya secara repetitif. Lama kelamaan, kebiasaan orang terkasihnya akan menjadi kebiasaannya juga. Maka dari itu, sejatinya para ibu Ahmadi perlu membiasakan untuk melakukan hal-hal hebat, agar kelak ditiru generasinya.

 

Menjadi Suri Teladan

Lalu, muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar anak keturunan kita menjadi Ahmadi shaleh dan saleha serta sangat mencintai Khalifah? Jawabannya tertera secara eksplisit dalam buku “Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu”:

“Jadi, jika seorang Ibu ingin membesarkan seorang anak Ahmadi Muslim yang shaleh, penting baginya untuk memiliki kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya (saw), benar dalam baiatnya kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) dan memperlihatkan penghormatan dan ketaatan kepada Hazrat Khalifatul Masih (aba) dan Nizam Jemaat (Pengurus Pusat Jemaat). Dia harus senantiasa mendirikan Shalat dan membaca Al-Qur’an dalam rumahnya, berpegang teguh pada pardahnya, menahan diri dari kebohongan, memfitnah dan bergosip, memperlihatkan rasa hormat dan kecintaan terhadap suami dan keluarganya, dan menciptakan sebuah rumah yang penuh cinta dan keharmonisan.”

Di dalam buku tersebut, Hadhrat Amma Jaan ra juga turut memberikan beberapa nasihat bagi para ibu, diantaranya:

1. Senantiasa dawam dan tepat waktu mendirikan shalat

Diceritakan, Hadhrat Amma Jaan ra selalu dalam keadaan suci (memiliki wudhu) ketika menjelang waktu shalat. Rasanya sulit sekali mendirikan shalat tepat waktu karena segudang kesibukan mengerjakan tugas domestik yang tidak ada ujungnya, terlebih ketika seorang ibu masih memiliki lebih dari 2 balita di rumahnya. Namun tidak ada yang tidak mungkin dalam meraih ridhoNya. Tangan Tuhan selalu bekerja untuk mereka yang menginginkan perubahan suci dalam dirinya.

2. Baca atau dengarkan ayat Al-Qur’an setiap hari

Hadhrat Amma Jaan ra senantiasa meminta anak atau cucu beliau untuk membacakan Al-Qur’an, hadits dan buku-buku Hazrat Masih Mau’ud (as) atau cerita pendek tentang moral kepada beliau. Hal ini akan meningkatkan pengetahuan keagamaan, kemampuan bicara di depan umum, kepercayaan diri dan literasi mereka.

3. Berikan ketaatan yang sempurna pada Khalifah-e-waqt

Meskipun Hadhrat Amma Jaan ra merupakan sosok wanita dewasa berusia 40 tahun dengan kedudukan mulia sebagai istri nabi, namun beliau senantiasa memohon izin kepada Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) sebelum meninggalkan Qadian.

Menumbuhkan ketaatan anak pada Khalifah dapat dimulai dengan menumbuhkan kecintaan terlebih dahulu melalui cerita bagaimana Khalifah begitu mencintai anggotanya, khususnya anak-anak Ahmadi. Melalui siaran yang bertajuk children corner di stasiun TV MTA, Huzur dengan segala kelembutan dan kerendahan hatinya mengayomi anak-anak, bahkan sorot matanya menyiratkan ribuan do’a bagi anak-anak Ahmadi.

Dengan bertumbuhnya rasa cinta terhadap Huzur, anak-anak akan selalu ingat untuk mengirim surat cintanya pada Huzur. Alhasil, hubungan antara dirinya dengan Khalifahnya terjalin erat dan ketaatan pun secara otomatis melekat dalam dirinya. InshaAllah

Share :
Tags :

LI Indonesia Update