(Annisa Yunita Handayani, NAI Sindangbarang Jawa Barat 02)

Assalamu’alaikum wr.wb

Perkenalkan nama saya Annisa Yunita Handayani. Umur saya 12 tahun, dari Cabang Sindangbarang Bogor.

Disini saya akan menceritakan pengalaman saya tentang Khatam AlQur’an di bulan Ramadhan. Pertama-tama saya melihat ayah dan mamah saya sedang mengaji. Sayapun disuruh mengikutinya.Ayah saya berkata, “Nanti kalau Ayah ada yang salah tolong dibetulkan ya De.”

Ayah dan mamah saya mulai mengaji dan saya mengikutinya.Dikhawatirkan ada yang salah atau terlewat, saya selalu mengingatkan ayah saya jika ada yang salah, begitupun seterusnya.

Ketika ayah dan mamah saya mulai membuka Al Qur’an, saya merasa tertarik dan mengikutinya. Bagian-bagian yang ayah baca selalu saya tandai, terkadang saya membacanya sendiri untuk melanjutkan bacaan yang saya simak dari ayah dan mamah saya, lalu saya membacanya.

Tidak hanya membaca, saya pun mulai memahami ilmu Tajwidnya. Ternyata ilmu Tajwid yang saya miliki hanya sedikit. Ayah dan mamah saya tidak lupa untuk mengingatkan saya kalau ada Tajwid yang tak terbaca. Saya membaca Al Qur’an setelah shalat dan sesudah mengerjakan pekerjaan rumah saya.

Ketika bulan Ramadhan saya mulai membaca Al Qur’an dan saya bertanya kepada orang tua saya,“Apakah boleh melanjutkan membaca Al Qur’an sebelum memasuki bulan Ramadhan?”Mamah saya pun menjawab, “Lebih baik Nisa ulangi lagi, agar Nisa bisa membaca AlQur’an lebih mudah.”Saya menjawabnya,“Baik Mah.”

Dan saya mulai membacanya dari surah pertama, yaitu Surah Al Fatihah dan saya bertanya pada mamah, “Mah, apakah Mamah sudah Khatam baca AlQur’an?” Mamah saya menjawab, “Belum De, karena membaca AlQur’an itu tidak boleh tergesa-gesa, harus dipahami juga ilmu tajwidnya.”

Dengan bersemangat saya mengaji, agar bisa mengikuti mamah saya yang membaca AlQur’an dengan baik dan benar. Hari demi hari, ayah saya membaca Al Qur’an dan ayah saya sudah lebih dahulu khatam,  yaitu selama 10 hari di bulan Ramadhan. Mamah sayapun terus melanjutkan mengajinya. Mamah saya membaca Al Qur’an kurang lebih sebanyak sebanyak 150 ayat dalam setiap waktunya. Dan beliau dapat menyelesaikannya pada hari ke-20 di bulan Ramadhan. Akhirnya mamah sayapun khatam.

Ini membuat saya bersemangat untuk mengaji, agar saya bisa khatam Al Qur’an seperti ayah dan mamah saya. Dan akhirnya saya dapat mengkhatamkan Al Qur’an, alhamdulillah selama 25 hari. Saya senang sekali bisa mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan.

Beberapa hari kemudian, ada kabar berita bahwa ternyata yang khatam Al Qur’an itu harus didata dan nama saya masuk dalam data tersebut.

Saya dan teman-teman mendapat hadiah dari Pengda Jawa Barat 02, dengan jumlah kira-kira delapan orang. Saat saya menerima hadiah, saya sangatlah gembira karena banyak yang mengucapkan “Mubarak” kepada semua teman-teman yang khatam AlQur’an termasuk kepada saya.

Pada saat pembagian hadiah dari Pengda, saya diminta mengisi pembukaan untuk membaca AlQur’an yaitu Surah AlBaqarah ayat 183-185 tentang puasa. Awalnya saya merasa takut dan malu untuk menerimanya, tetapi mamah saya bilang bahwa saya harus belajar berani maju ke depan, untuk tampil di hadapan teman-teman.

Akhirnya sayabelajar terlebih dulu sama mamah saya di rumah sebelum tampil nanti, dan sayapun memberanikan diri untuk tampil saat mengisi pembukaan. Walaupun dengan rasa was-was, takut, dan malu itu selalu ada dalam pikiran saya, tapi saya berusaha untuk tampil ke depan untuk membaca Al Qur’an.

Alhamdulillah saya bisa tampil untuk membacanya.

Ternyata, membaca Al Qur’an dan mendengarkan suara alunan orang yang sedang membaca Al Qur’an itu sungguh menyenangkan. Hati kita menjadi tenang, suasana rumahpun terasa damai dan menjadikan cahaya yang terang dalam rumah saya.