“Tidak ada kata yang lebih tinggi dari Alhamdulillahirabil alamiin”

Bulan Desember 2022 merupakan titik tolak sejarah baru bagi badan-badan di Jemaat Ahmadiyah Indonesia, salah satunya bagi Lajnah Imaillah. Tepat seabad LI sejak 1922, Hadhrat Khalifatul Masih II membentuk Lajnah Imaillah, sebagai wadah perempuan Ahmadiyah meningkatkan ketakwaan dan bermanfaat bagi sesama.

Pada masa 100 tahun ini, Lajnah Imaillah Indonesia memiliki 3 (tiga) program besar yaitu: penyusunan buku sejarah LI Indonesia, mencetak 100 guru tajwid, dan program kesehatan mental perempuan.

Buku Sejarah Lajnah Imaillah Indonesia

Pancarona Lajnah Imaillah Indonesia, adalah judul yang disematkan untuk buku ini. Kata Pancarona dipilih untuk menggambarkan keragaman, untuk menunjukkan bahwa Lajnah Imaillah yang tersebar di seluruh Indonesia sangatlah beragam suku dan budaya. Namun demikian, semuanya tetap teruntai sebagai satu kesatuan.

Tim penyusun buku sejarah yang dibentuk oleh Sadr LI ini terdiri atas empat orang. Mereka adalah Ibu Sutji Rochani (Kebayoran), Meilita Hikmawati (Gondrong), Ine Siti Nurul Mu’mina (Sindangbarang) dan Rahma A. Roshadi (Wanasigra Pusat).

Keempatnya mulai terbentuk pada bulan Agustus 2021 dan untuk pertama kalinya bertemu muka pada bulan Oktober 2021 di Perpustakaan Nusrat Jahan Komplek Gedung Baitul Afiyaat. Komunikasi secara intens dilakukan antar anggota tim penulis dan juga Ibu Amy Rachmatunisa selaku Sekretaris Isyaat PPLI.

Diskusi Tim Sejarah di Perpustakaan Nusrat Jahan

Mengumpulkan dan merangkum data Lajnah Imaillah Indonesia sejak awal berdiri adalah sebuah tantangan yang unik. Betapa tidak? Jemaat Ahmadiyah masuk ke Indonesia sejak tahun 1925. Sejak tahun tersebut, barangkali sudah banyak kiprah LI di Indonesia yang turut serta dalam medan pertablighan. Namun secara administratif, kepengurusan pertama LI Indonesia tercatat tahun 1931 di Padang.

Bulan Agustus 2022, buku sampel bisa tercetak untuk mendapatkan review dari Sadr LI melalui Sekretaris Isyaat PPLI. Ibu Amy memberikan review pada setiap sudut buku sampel dengan sangat detail. Meskipun terlihat melelahkan, namun hal tersebut juga sangat dibutuhkan oleh sebuah tim.

Awal September 2022, proses pencetakan buku dimulai. Proses normal cetak buku memakan waktu sekitar 1 bulan. Tepat di akhir September 2022, sebanyak 500 eksemplar buku telah selesai cetak dan terkirim ke Baitul Afiyaat.

Serah Terima Buku kepada Sadr dan Para Naib Sadr

Buku “Pancarona Lajnah Imaillah Indonesia” telah diserahterimakan tepat di hari pelaksanaan Majelis Syuro Nasional LI tanggal 8 Oktober 2022, dari tim sejarah kepada Sadr LI. Selanjutnya, buku-buku juga telah terdistribusikan dengan baik ke seluruh cabang di Indonesia, kepada para pengurus PB-JAI, selain juga tersedia di perpustakaan Nusrat Jahan, Kemang-Bogor.

Mencetak 100 Guru Tajwid

Sebaik baiknya buku adalah Alquran yang didalamnya sarat dengan ilmu pengetahuan termasuk moral, berperilaku baik, kejujuran, kebaikan dan lain lain. Membaca Alquran dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran agar selalu menjadi tenang.

Terkait dengan keutamaan membaca Al-Qur’an tersebut, program dari bidang ta’lim untuk seabad Lajnah Imaillah adalah mencetak guru-guru tajwid yang tersebar di seluruh cabang di seluruh Indonesia. Berada di bawah supervisi Naib Sadr bidang Ta’lim, program ini tentu akan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Muzammil (QS. 73:5)

وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

“dan bacalah Al-Qur’an secara perlahan dengan penuh perhatian.”

Rasulullah salallaahu alaihi wasallam juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Yang terbaik di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari)

Sejak program digulirkan, para pengajar Al-Qur’an dari berbagai cabang berbondong-bondong menyambut seruan sebagai kafilah Al-Qur’an untuk dapat mengajar Al-Qur’an kepada seluruh anggota Lajnah dan Nashirat.

Kesehatan Mental Perempuan

Program berikutnya yang digagas oleh Lajnah Imaillah Indonesia melalui sekretaris bidang Sehat Jasmani adalah Kesehatan Mental Perempuan. Pandemi telah membawa lebih banyak masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental dan kesejahteraan. Masalah ini juga telah ditangani oleh Al-Qur’an, sebagaimana Hudhur Aqdas (aba) telah menyatakan:

“Di masa lalu (dan kadang-kadang saat ini pun masih) orang sering dengan tabah menanggung penderitaan mereka dan menahan tangis, yang pada gilirannya berdampak buruk pada mereka. Jadi orang seperti itu disarankan untuk menangis demi melepaskan kesedihan mereka. Jika anda menekan perasaan Anda ketika Anda berduka dan menderita dengan diam tidak mengungkapkannya atau membiarkannya keluar, itu akan mempengaruhi hati. Karena itu, Anda harus menangis dan mengungkapkan penyesalan Anda. Inilah yang Al-Qur’an anjurkan kepada kita dan apa yang Nabi Suci Muhammad saw instruksikan kepada kita juga. Tuhan memerintahkan kita menangis dan menangis di hadapan-Nya yang jelas dari ayat ini:

لَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب
‘Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram’

Oleh karena itu, seseorang harus mengungkapkan segala sesuatunya di hadapan Allah – ketika doa Anda diterima itu memberikan kepuasan dan kelegaan yang luar biasa.”

Webinar Kesehatan Mental

Selain karena pandemi, paparan informasi yang semakin lekat tentang hal-hal duniawi juga bisa menjadi sebab seeorang mengalami kejenuhan hingga stress yang sangat membebani pikiran. Maka, kesehatan mental menjadi sangat penting, mengingat Lajnah atau kaum perempuan yang sehat dan tangguh akan menjadi pilar kuat yang mendukung keutuhan keluarga, serta generasi Ahmadi di masa mendatang.