Singaparna, 31 Januari 2026 – Lajnah Imaillah Cabang Singaparna ikut berpartisipasi dalam kegiatan Festival Literasi, Literacy for Peace yang diprakarsai oleh Komunitas Literasi Kawaca, Tim Desa Damai Berkelanjutan Desa Cipakat, serta AMAN Indonesia.
Kegiatan Literacy for Peace ini dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Kegiatan perdana dilaksanakan di Aula Desa Cipakat pada Minggu, 4 Januari 2026 berupa Kelas Inspirasi dengan tema “Bergerak Bersama Merawat Perdamaian dengan Suara Perempuan”. Peserta menonton dan mendiskusikan film “Beta Mau Jumpa” yang mengangkat kisah rekonsiliasi pasca konflik Ambon 1999-2002. Perempuan dan anak muda merawat perdamaian dan merajut kembali hubungan antara Kristen dan Muslim yang mengalami segregasi. Pada sesi diskusi, hadir narasumber DR. Isti’anah M.Ag, Dosen di Universitas Islam KH. Ruhiat, Cipasung (UNIK) yang menyampaikan materi tentang potensi konflik di Indonesia serta peran perempuan dalam pencegahan dan penanganan konflik. Sebanyak 40 peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan mendiskusikan isu kontekstual wilayah, membandingkan pengalaman Ambon dengan konteks isu lokal di Tasikmalaya.
Kegiatan yang ke dua, dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026. Bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC). Mengambil tema “Suara Perempuan untuk Penguatan Keadilan, Hak Asasi Manusia dan Perdamaian”. 35 peserta yang berasal dari STTC, UNIK, serta Jelima Book Club (Jejak Literasi Mahdi) bersama-sama menyimak paparan dari Isti’anah yang membedah buku “Nalar Kritis Muslimah: Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman” karya Dr. Nur Rofiah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat suara perempuan dalam memperjuangkan keadilan, hak asasi manusia, dan perdamaian. Pada kesempatan itu, hadir juga ulama perempuan Hj. Ida Nurhalida yang membahas isu-isu keperempuanan, maqasid syariah, hak asasi manusia, dan Islam progresif.
Kegiatan Literacy for Peace ke tiga, dilaksanakan pada Minggu, 18 Januari 2026. Berkonsep from library to coffe shop, kegiatan dilaksanakan di Kafe Coffeed-19 dengan dihadiri anak-anak muda dari Komunitas Literasi Kawaca, Lajnah Imaillah/Jelima Book Club, IJABI, KOPRI, mahasiswi STTC, UNCIP, dan IPPNU. Tema yang dibahas adalah “Perempuan dalam Keadilan Lingkungan, Menjaga Bumi dan Merawat Perdamaian.” Peserta kembali diajak berdiskusi dengan materi tentang menjaga ekosistem, penghematan energi, kebiasaan-kebiasaan baik yang akan diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan ini, peserta dari Lajnah Imaillah menjelaskan konsep hemat energi juga pemisahan sampah, yang menjadi salah satu agenda syuro Lajnah Imaillah. Sebelum diskusi berakhir, setiap peserta dihimbau untuk membuat slogan atau tagline terkait dengan lingkungan, kebersihan, dan penghematan energi.
Puncak sekaligus penutup kegiatan Literacy for Peace dilaksanakan pada Sabtu, 31 Januari 2026. Pembukaan acara ditandai dengan Deklarasi Literacy for Peace yang dibacakan dan ditandatangani bersama oleh perempuan, anak muda, tokoh lintas iman, serta seluruh pemangku kepentingan yang hadir. Deklarasi ini menegaskan komitmen bersama untuk menjunjung perdamaian sebagai hak setiap manusia, memperkuat literasi kritis sebagai jalan mencegah kekerasan dan intoleransi.
Selanjutnya digelar diskusi publik dengan tema “Peran Perempuan dan Kelompok Muda dalam Menguatkan Demokrasi Inklusif, Moderasi Beragama, dan Merawat Perdamaian dengan Lensa WPS (Women, Peace and Security)”. Yuniyanti Chuzaifah, Executive Board AMAN Indonesia menyampaikan materinya yang berjudul “Demokrasi Inklusif dan Berkedamaian: Perspektif Islam, HAM-Gender dan Ekologi”. Sementara itu, Dr. Isti’anah, M.Ag menyampaikan materi dengan judul “Moderasi Beragama”. Bertempat di Aula Desa Cipakat, kegiatan dihadiri lebih dari 100 peserta yang berasal dari kalangan muda Komunitas Literasi Kawaca, Bunda Literasi desa Cikunten dan Cikunir, mahasiswi STTC, UNIC, UNCIP, Lajnah Imaillah, IJABI, serta beberapa stake holder di pemerintahan desa Cipakat dan Kecamatan Singaparna.
Pada rangkaian Literacy for Peace tersebut, Lajnah yang berpartisipasi sebanyak 12 orang dengan 1 orang sebagai panitia. Peserta dari AMSAW Faiza Tazkia mendapatkan penghargaan sebagai Partisipan Teraktif pada Festival Literasi Perdamaian. Harapan dari kegiatan ini, melalui literasi perdamaian, perempuan-perempuan dan anak-anak muda di Tasikmalaya dapat lebih memahami dan menghargai perbedaan, menjunjung kesetaraan gender, Islam progresif dan HAM, serta menolak segala bentuk ujaran kebencian dan perpecahan, baik di ruang sosial maupun digital. Isu-isu konflik di tingkat lokal dapat dicegah dengan mengedepankan moderasi beragama.
Kontributor: Rahmatika Candra

