Tasikmalaya, 21 Februari 2026 — Suasana haru dan khusyuk menyelimuti pertemuan Muawanah Cabang Neglasari yang digelar pada Sabtu pagi, 21 Februari 2026. Tepat pukul 09.00 WIB, puluhan anggota Lajnah Imaillah, Nasirat, dan Abna telah memenuhi tempat acara, siap mengisi hari ketiga Ramadan dengan kegiatan yang menyejukkan hati.
Total 68 orang hadir dengan penuh semangat. Meski tubuh menahan lapar dan dahaga, tak satu pun wajah tampak lelah. Justru, kehadiran tepat waktu dan partisipasi aktif mereka menjadi bukti nyata bahwa Ramadan tidak pernah menjadi penghalang untuk terus berkumpul dalam kebaikan.
Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema lembut, membuka pintu hati setiap yang hadir. Dilanjutkan dengan pembacaan janji Lajnah Imaillah dan Nashiratul Ahmadiyah, serta pembacaan Hadis dan Malfuzat yang menambah kedalaman makna pertemuan pagi itu.
Namun, momen yang paling dinanti adalah pemaparan materi Muawanah yang disampaikan oleh Sekretaris Tarbiyat. Dengan tema “Berjuang Memenuhi Syarat Bai’at,” peserta diajak merenungi kembali hakikat bai’at yang telah diikrarkan.
Hazrat Masih Mau’ud a.s., sang pembaru abad ke-14, mengingatkan bahwa bai’at bukan sekadar ritual tanpa ruh. “Manfaat bai’at bukanlah secara ritual. Bai’at semacam itu tidak memiliki berkat. Seseorang hanya dapat meraih berkat bai’at ketika dia maju secara kerohanian dan menjalin hubungan kecintaan dengan orang yang dia bai’at kepadanya,” demikian nasihat agung yang disampaikan di hadapan jemaat.
Materi pun mengupas dua dari sepuluh syarat bai’at. Syarat pertama: menjauhi syirik dengan hati jujur hingga akhir hayat, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 49, “… dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.”
Syarat kedua: menjauhkan diri dari segala keburukan moral, bohong, zina, pandangan penuh birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, dan segala bentuk pemberontakan. Hawa nafsu pun tak boleh dibiarkan menguasai diri. Sebuah pengingat yang tegas namun disampaikan dengan penuh kasih: “Dusta adalah akar dari semua kejahatan.”
Setelah sesi materi, acara beralih ke agenda khusus untuk Nasirat, memberikan ruang bagi generasi penerus untuk turut aktif dalam perjalanan spiritual ini. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kehangatan yang tersisa di hati setiap peserta.
Pertemuan Muawanah kali ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi oase di tengah hari-hari puasa, mengingatkan kembali makna perjuangan memenuhi janji suci yang telah diikrarkan. Dan di penghujung acara, satu pesan tersirat: Ramadan adalah momentum, dan kebersamaan adalah kekuatan.
Kontributor: Lulu Lutfia


