Al-Qur’an menyatakan:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗ
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan.”
(Q.S. An-Nisa, 4:2)
Di lain tempat Al-Qur’an menyatakan:
فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ
“Kemudian Dia menjadikannya sepasang, laki-laki dan perempuan.”
(Q.S. Al-Qiyamah, 75:40)
Pembahasan kekinian ajaran Islam mengenai pemisahan antara laki-laki dan perempuan, pembagian peran, serta harapan berdasarkan kondisi fisik sering dikaji secara mendalam dengan menggunakan sudut pandang sosial modern yang dipengaruhi oleh feminisme dan gagasan kesetaraan hak perempuan.
Hazrat Mirza Tahir Ahmad (rh), Khalifatul Masih IV, dalam tulisannya yang mendalam berjudul Islam’s Response to Contemporary Issues, menanggapi kritik dari gerakan feminis Barat, kaum modernis, dan ateis dengan kejernihan pandangan yang luar biasa. Dalam artikel ini, saya berupaya melengkapinya dengan bukti-bukti evolusioner tentang spesies manusia, pemahaman peran gender berdasarkan temuan ilmiah modern, serta keselarasan ajaran Islam dengannya.
Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) menjelaskan visi tentang apa yang ingin ditawarkan Islam kepada masyarakat, dengan menyajikan perspektif yang menyeluruh dan penuh pertimbangan. Beliau menyatakan:
“Menurut Islam, perempuan harus dibebaskan dari eksploitasi dan dari peran sekadar sebagai alat pemuas. Mereka harus memiliki lebih banyak waktu untuk diri mereka sendiri guna menunaikan tanggung jawab terhadap rumah tangga dan generasi masa depan umat manusia.
Membangun kehidupan keluarga dengan ibu sebagai poros utamanya menuntut penguatan dari anggota keluarga lainnya serta pemulihan ikatan kasih yang sejati dengan sanak saudara. Meskipun setiap unit keluarga dapat hidup terpisah, konsep keluarga besar ini didukung dan dipromosikan oleh Islam karena berbagai alasan […].”
(Islam’s Response to Contemporary Issues, hlm. 102)
Alasan-alasan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ketidakseimbangan sosial serta penguatan cinta dan kasih sayang dalam hubungan keluarga.
Bukti Evolusi
Perjalanan evolusi manusia berlangsung hampir 3 juta tahun. Namun, beberapa spesies modern muncul sekitar 500.000 tahun yang lalu. Spesies kita, Homo sapiens, muncul sekitar 300.000 tahun yang lalu. Pembagian kerja berdasarkan gender pada Homo sapiens dan hominid sebelumnya telah berkembang secara signifikan seiring waktu.
Pada periode Paleolitikum Tengah (300.000–50.000 tahun lalu), pembagian kerja belum terlalu menonjol, dengan laki-laki dan perempuan sama-sama terlibat dalam aktivitas seperti berburu dan meramu. Peran mereka relatif selaras dalam jadwal dan pola pergerakan. Namun, periode Paleolitikum Atas (50.000–12.000 tahun lalu) menandai perubahan besar.
Pada masa ini, Homo sapiens menjadi spesies paling berhasil di Bumi. Keberhasilan ini ditopang oleh sifat-sifat yang berkembang melalui tekanan evolusi, seperti hidup dalam sebuah keluarga, pembagian kerja berdasarkan gender, pengasuhan anak, serta pembentukan komunitas suku yang besar dan kohesif. Sifat-sifat ini tertanam di dalam DNA kita.
Pembagian Kerja
Selama 50.000 tahun terakhir, bukti menunjukkan munculnya peran ekonomi yang lebih terspesialisasi dalam peradaban manusia. Laki-laki lebih berfokus pada perburuan hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan bahan pangan nabati dan hewan kecil. Pembagian kerja ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan berkontribusi pada keberhasilan sebuah keluarga.
Dalam masyarakat pemburu-peramu kontemporer, pembagian kerja ini semakin jelas. Laki-laki berburu dan menangkap ikan, sementara perempuan mengumpulkan tanaman, mengasuh anak, serta melakukan tugas domestik lainnya. Pembagian kerja yang saling melengkapi ini diyakini memberikan keuntungan evolusioner dengan menjamin pasokan pangan yang stabil dan memperkuat kohesi sosial dalam keluarga besar dan suku.
Penetapan peran gender yang jelas menjadi faktor penting dalam evolusi manusia karena memungkinkan spesialisasi dan efisiensi yang lebih besar dalam memperoleh sumber daya. Hal ini sangat penting mengingat manusia purba belum tinggal di rumah secara permanen atau menetap di lingkungan dengan teknologi yang mampu melindungi mereka dari kondisi iklim yang ekstrim.
Peran khusus antara laki-laki dan perempuan inilah yang memungkinkan manusia menyebar ke seluruh dunia selama 70.000 tahun terakhir. Al-Qur’an menyatakan:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(Surah al-Hujurat, Bab 49: Ayat 14)
Ketika kelompok manusia modern mulai bermigrasi keluar Afrika sekitar 70.000 tahun lalu, mereka terus bergerak hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Perbedaan Fisik
Perbedaan ukuran dan kekuatan fisik antara laki-laki dan perempuan memiliki dasar evolusioner yang berakar pada dimorfisme seksual, yaitu perbedaan ukuran dan penampilan antara jantan dan betina dalam suatu spesies. Pada manusia, perbedaan ini dipengaruhi oleh tekanan evolusi dan peran reproduktif.
Sebagai contoh, laki-laki umumnya memiliki massa otot dan kekuatan yang lebih besar, yang secara historis membantu dalam berburu dan perlindungan. Faktor hormonal juga berperan; testosteron yang lebih tinggi pada laki-laki mendorong pertumbuhan otot dan kepadatan tulang, sedangkan estrogen yang lebih tinggi pada perempuan mendukung penyimpanan lemak dan sifat-sifat lain yang bermanfaat bagi kehamilan dan persalinan.
Allah (Swt) berfirman:
ٱلرِّجَالُ قَوَّـٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ
“Kaum laki-laki adalah penanggung jawab bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
(Surah an-Nisa, Bab 4: Ayat 35)
Ayat ini sering ditafsirkan secara beragam oleh para ulama, namun secara umum ayat ini menunjukkan kewajiban moral dan spiritual laki-laki sebagai pemberi nafkah dan pelindung bagi keluarganya.
Jumlah Anggota Keluarga pada Manusia Purba dan Modern
Jumlah anggota keluarga pada berbagai spesies hominid bervariasi tergantung pada struktur sosial dan kondisi lingkungan. Homo erectus kemungkinan hidup dalam kelompok kecil, mirip dengan kelompok pemburu-peramu modern, yang terdiri atas 10–30 individu.
Kelompok Neanderthal juga relatif kecil, sekitar 10–15 individu, termasuk anak-anak. Ukuran kelompok yang kecil ini disebabkan oleh lingkungan yang keras dan kebutuhan akan ikatan sosial yang erat demi bertahan hidup.
Manusia modern awal (Homo sapiens) hidup dalam kelompok yang lebih besar, berkisar antara 20–50 individu. Kelompok yang lebih besar ini memfasilitasi kegiatan berbagi makanan, alat, dan sumber daya lainnya, serta meningkatkan pembelajaran sosial dan perkembangan budaya.
Peran gender yang jelas dan struktur keluarga yang kohesif memungkinkan Homo sapiens mengungguli spesies hominid lain dan membangun peradaban yang berkelanjutan.
Pandangan Islam
Ketika kita merenungkan peradaban yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam, kita menemukan keselarasan yang mendalam dengan fitrah manusia. Perbedaan gender, beserta kekuatan dan kelemahannya, memainkan peran penting dalam kelangsungan sebuah keluarga.
Konsep purdah (penjagaan aurat) misalnya, mendorong manusia untuk saling menghormati dan mengakui adanya ketertarikan alami antara laki-laki dan perempuan, sekaligus mencegah penyimpangan yang dapat merusak struktur keluarga.
Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) menulis:
“Pemisahan sering disalahpahami sebagai pembatasan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Padahal, konsep Islam tentang pemisahan bertujuan melindungi kehormatan dan kesucian perempuan serta meminimalkan risiko penyimpangan moral.”
(Islam’s Response to Contemporary Issues, hlm. 92)
Penutup
Sebagai penutup, saya mengulangi pernyataan Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) bahwa pemulihan kesatuan keluarga tradisional membutuhkan lebih dari satu langkah. Islam memiliki pesan yang jelas dan rencana yang terdefinisi dengan baik untuk melindungi, menjaga, dan membangun kembali sistem keluarga secara universal.
Perjalanan manusia selama jutaan tahun menunjukkan bahwa setiap gender memiliki peran yang khas, dengan tujuan utama menjaga keberlangsungan keluarga. Mengabaikan tujuan ini demi kesenangan sesaat hanya akan membawa kekacauan dan penderitaan.
Hazrat Mirza Tahir Ahmad (rh) menegaskan:
“Manusia tidak dapat menikmati kesenangan tanpa batas dan tanpa kendali. Kesenangan memang diizinkan, tetapi tidak dengan mengorbankan ketenangan batin dan keamanan masyarakat.”
(Ibid., hlm. 86–87)
Sumber: Imran Ahsan Karim-Mirza, Australia dalam https://www.alhakam.org/gender-roles-perspective-islamic-teachings/
