Lurah Ingu, 31 Januari 2026 – Di tengah gempuran zaman, kaum ibu di Cabang Lurah Ingu, Sumatera Barat 2, menyisipkan pesan penting bagi masa depan: musuh terbesar generasi mendatang bukanlah sekadar teknologi, melainkan hilangnya ketangguhan spiritual. Pesan ini mengemuka dalam Ijtima Lajnah Imaillah (LI) dan Nashirat.
Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Tangguh melalui Program Berkesinambungan”, acara yang dipandu oleh Ketua LI Cabang Lurah Ingu, Nurhidayat, ini menjadi ruang refleksi bagi 20 anggota LI dan sejumlah anggota Nasirat.
Peran ibu melawan setan menjadi salah satu poin krusial dalam pertemuan ini adalah pemaparan materi dari Pengda Sumbar 2, Ani Kurnia. Mengutip petuah Khalifatul Masih II r.a., Ani menekankan bahwa ibu memiliki bakat khusus yang dikaruniakan Tuhan untuk melawan pengaruh buruk (setan) terhadap anak-anaknya. Pesan ini menekankan bahwa kualitas generasi mendatang berada di tangan para ibu, bukan pengaruh luar.
Tak mau kalah, kelompok Nashirat mengusung semangat “Cinta Ilmu”. Sekretaris Nasirat Lurah Ingu, Aunurlia Arnani, mengingatkan anak-anak Ahmadi untuk menjadi pembelajar yang sabar. Bagi mereka, menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan bentuk ibadah yang diniatkan karena Allah Ta’ala.
Selepas materi yang bernas, suasana berganti menjadi kompetisi yang hangat. Berbagai perlombaan digelar untuk menguji ketangkasan rohani, mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), hafalan Nazm, pidato, hingga Lomba Cerdas Cermat (LCC). Khusus bagi Nasirat, mereka ditantang bercerita (story telling) tentang kisah inspiratif Hazrat Rukayah.
Keriuhan kompetisi ditutup dengan khidmat. Neni Rohaeni, pemenang lomba MTQ, membacakan ayat suci Al-Quran sebagai pemungkas acara. Pertemuan ini diakhiri dengan tradisi bersalaman yang dimulai dari Ketua LI kepada seluruh anggota sebuah simbol pengikat persaudaraan yang erat sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing membawa bekal spiritual bagi keluarga.
Kontributor: Sekretaris Isyaat Lurah Ingu


