Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Fatimah binti Qais ra – Pejuang Lemah Lembut dan Amanah

Fatimah Qais

Fatimah binti Qais adalah sosok wanita yang layak dijadikan teladan. Ia adalah istri dari Abu Thalib, paman Rasulullah s.a.w. Fatimah binti Qais termasuk salah satu ibu yang merawat Rasulullah s.a.w, sejak Abdul Muthallib atau kakek Rasulullah meninggal. Ia juga tokoh wanita yang tergolong generasi pertama memeluk agama Islam dan ikut hijrah.

Sebagaimana suaminya, Abu Thalib yang senantiasa memberikan perlindungan dan dukungan kepada Nabi Muhammad s.a.w selama masa awal dakwahnya di Makkah, Fatimah binti Qais juga merupakan seorang pengikut setia Nabi s.a.w, dan ia terus memperjuangkan kebenaran Islam bersama suaminya hingga akhir hayatnya.

Saat berhijrah, ia ditinggalkan oleh suaminya Abu Thalib yang saat itu sedang sakit dan tidak mampu melakukan perjalanan. Namun, Fatimah tetap bertekad untuk menemui Nabi Muhammad dan bergabung dengan komunitas Muslim di Madinah. Ia melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan dengan berjalan kaki.

Fatimah binti Qais termasuk wanita yang penyayang dan sebaik-baik wanita. Tentang hal ini Rasulullah menyebut Fatimah binti Qais adalah sebaik-baiknya wanita Quraisy, sebagaimana sabdanya:

“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita shalihah dari suku Quraisy; paling lembut kepada anak di usia kecil dan paling menjaga pada harta suami.” (HR. Bukhari)

 

Fatimah binti Qais mencintai Rasulullah seperti mencintai anaknya sendiri. Ia melihat keberkahan yang melimpah di rumahnya sejak kehadiran Muhammad. Abu Thalib, suaminya, adalah seorang fakir. Anak-anaknya tidak pernah makan sampai kenyang, sampai ketika Muhammad ikut makan bersama mereka.

Setiap kali Abu Thalib hendak memberi mereka makan, ia selalu berkata, “Tunggu dulu, sebelum anakku itu datang.” Setelah datang, Muhammad kecil ikut makan bersama mereka. Mereka semua makan hingga kenyang, sampai kadang-kadang bersisa.

Ketika nubuwah itu datang, Fatimah bergegas menyambutnya. Ia memiliki kedudukan luhur di hati para sahabat. Saat panggilan hijrah datang, ia ikut berhijrah ke Madinah.

Ada sebuah kisah menarik tentang Fatimah binti Qais dan Nabi Muhammad s.a.w. Pada suatu hari, Nabi Muhammad s.a.w melihat Fatimah binti Qais menangis, maka Rasulullah menghiburnya dengan berbicara lembut dan memberikan nasihat. Setelah itu, Nabi juga menangis bersama dengan Fatimah dan mengatakan bahwa air mata wanita itu telah memengaruhi hatinya.

Fatimah binti Qais meninggal saat Rasulullah masih hidup. Ia dimakamkan di Madinah. Rasulullah turun langsung ke liang lahat untuk menguburkannya, yang hanya dilakukan Rasul terhadap empat orang di dunia ini.

LI Indonesia Update