Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Harga Diri, Kompetensi dan Resonansi Dukungan Perempuan Menurut Islam

Harga Diri

 

 

 

 

Kedudukan perempuan terhadap laki-laki kerap menjadi diskusi tajam. Memahami kata pengkhidmatan atau pelayanan kepada laki-laki tak jarang diterjemahkan secara vulgar, hingga mengarah pada pembatasan ruang gerak, merendahkan harkat dan martabat, hingga tidak diberikannya kepercayaan kepada perempuan berdasarkan kompetensi yang berujung pada jatuhnya rasa percaya diri perempuan.

Harga diri, sebuah konsep positif dengan persepsi bahwa setiap manusia memiliki hak untuk dihormati dan diperlakukan layak. Keyakinan tersebut, meskipun berdampingan dengan persepsi orang lain, tetap harus memiliki pandangan konstruktif dan tetap melihat atau menempatkan seseorang secara positif.[1]

Terkait dengan harga diri perempuan sebagai manusia, apakah Islam memiliki ketegasan dalam mengadvokasi hal tersebut? Apakah Islam hanya menempatkan perempuan sebagai manusia “lapis kedua” di rumah di bawah laki-laki?

Ketegasan Islam sebagai agama universal termasuk di dalamnya menyoal kedudukan perempuan sebagai makhluk mulia. Pembatasan perempuan yang kerap dinarasikan oleh media haruslah dipahami secara mendalam.

Perempuan memiliki batasan dalam hal ibadah, namun bukan berarti memiliki perbedaan dalam kesempatan meraih keberkatan beribadah. Demikian halnya dalam memahami keberkatan “ibadah di rumah” yang tidak serta merta bisa diartikan bahwa perempuan yang berjuang di luar rumah adalah durhaka.

Hijab dan mahram bukan diberikan untuk membatasi, melainkan upaya untuk melindungi. Akan tetapi, di dalam konteks tersebut perempuan juga harus memiliki pengetahuan tentang batasan diri. Lebih jauh, di saat yang sama, perihal menjaga pandangan juga berlaku untuk laki-laki.

Setiap kali Islam berbicara tentang hak-hak laki-laki, Islam juga berbicara tentang hak-hak perempuan. Ketika Islam memberikan kabar gembira berupa pahala dan keridhaan Allah Ta’ala bagi laki-laki yang melakukan perbuatan baik, Islam juga memberikan kabar gembira berupa pahala dan keridhaan Allah Ta’ala bagi perempuan yang melakukan perbuatan baik juga. Dengan demikian, sangat salah jika ada orang yang mengatakan bahwa Islam mengutamakan laki-laki daripada perempuan.[2]

Islam telah memberikan hak kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan, hak untuk memperoleh dan memiliki harta benda, hak untuk mengekspresikan pilihan mereka mengenai pernikahan mereka dan hak untuk meminta khulu’ (perpisahan yang diinginkan oleh istri) jika terjadi kesalahan dari pihak suami.

Pada zaman Rasulullah saw, beberapa perempuan ikut berjuang mengangkat senjata. Di luar masa perang, tak sedikit juga yang berdagang atau bekerja di ladang. Para sahibiyah kerap menggunakan hak mereka untuk berekspresi, yaitu menyampaikan pendapat mereka kepada para lelaki dan juga bertanya tentang beberapa permasalahan kepada Rasulullah saw.[3]

Jika demikian, maka sejatinya Islam juga mendukung kemajuan perempuan secara keseluruhan, mengakui kompetensi dan tidak mengharapkan perempuan hanya duduk sebagai pelayan. Maka, tren negatif yang menempatkan harga diri perempuan lebih rendah dari laki-laki bukanlah ajaran Islam.

Advokasi Perempuan dalam Pembentukan Lajnah Imaillah

Sesuai dengan nubuatan yang diberikan dalam Al-Qur’an dan disebutkan oleh Rasulullah saw, Allah Ta’ala menunjuk Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as dari Qadian sebagai pembaharu di akhir zaman. Misi beliau as adalah menghidupkan kembali ajaran Islam yang sejati di tengah dunia modern.

Terkait dengan pemberdayaan perempuan, Khalifah kedua Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) mendirikan Lajnah Imaillah, badan khusus perempuan Muslimah Ahmadiyah pada tahun 1922.

Secara konsisten para khalifah menggaungkan kemuliaan perempuan melalui berbagai pidato dan khotbah. Para khalifah secara aktif turut memperkuat harga diri perempuan sebagai makhluk yang setara, sama-sama memiliki kesempatan untuk berekspresi.

Hazrat Muslih Mau’ud (ra) salah satunya menjelaskan bahwa pria dan perempuan adalah setara di hadapan Allah. Allah menciptakan pria dan perempuan sebagai mitra yang setara dan memberikan prinsip-prinsip panduan bagi masing-masing untuk mencapai keunggulan, kemakmuran dan pahala spiritual.

Yang Mulia berulang kali mengatakan kepada para perempuan bahwa Tuhan telah memberi mereka potensi yang sama untuk maju. Jika pria dapat unggul dalam pemahaman dan pengenalan mereka akan Tuhan, maka perempuan juga dapat melakukannya. Beliau juga selalu mendorong perempuan Ahmadi untuk mengenali kemampuan mereka yang sebenarnya, menekankan bahwa jika pria dapat bertanggung jawab atas bimbingan dan reformasi dunia ini, maka perempuan juga dapat mencapai status ini.

Lebih tegas, Hazrat Muslih Mauud (ra) bersabda bahwa kemajuan Islam fondasinya berada di pundak perempuan, manakala mereka mampu memperbaiki diri. Merangkul pepatah “Pengetahuan adalah kekuatan,” Yang Mulia pada dasarnya juga turut mendukung kemajuan pendidikan duniawi dan spiritual di kalangan perempuan. Bagaimana mungkin seseorang bisa memperbaiki diri tanpa adanya asupan pengetahuan?

Beliau menekankan bahwa dengan pencapaian pendidikan yang unggul, perempuan dapat secara signifikan meningkatkan rasa harga diri mereka. Dengan menempatkan iman mereka di atas segalanya dan bertindak berdasarkan ajarannya, perempuan dapat benar-benar mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi dan naik ke maqom yang benar-benar tinggi.

Hal ini menumbuhkan kemampuan untuk terlibat dalam tindakan positif, berperilaku dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan dan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain. Inilah benih dari tumbuhnya rasa percaya diri, yang pada akhirnya akan meningkat. Bahwa perempuan juga boleh dan bisa meningkatkan kapasitas dirinya.

Memupuk Harga Diri dan Identitas yang Kuat

Identitas adalah cara seseorang mengenal dirinya sendiri, tentang bagaimana seseorang dan mendefinisikan diri kita sendiri. Identitas adalah cara kita mengenal diri kita sendiri. Yang Mulia Huzur berulang kali menekankan kepada para perempuan bahwa kesuksesan mereka yang sesungguhnya terletak pada kesadaran akan status mereka yang tinggi.

Yang Mulia, dalam membimbing para perempuan menuju harga diri yang tulus yang berakar pada harga diri, memberikan kebijaksanaan bahwa menumbuhkan cinta dan welas asih di antara kita sendiri adalah kuncinya.

Huzur mendorong para perempuan untuk secara aktif menggaungkan persaudaraan. Jika seseorang berkomentar negatif tentang orang lain, maka carilah keberanian untuk menghentikannya dan katakan tolong jangan ceritakan kelemahan orang lain.

Huzur menasehatkan untuk tidak melanggengkan hal-hal negatif, menekankan pentingnya menghindari penyebaran komentar yang merugikan untuk mencegah konflik. Tip praktis dari Yang Mulia adalah jika Anda kebetulan mendengarkan seseorang berbicara negatif tentang orang lain, jangan pernah menyebarkannya lebih jauh. Hal ini akan memungkinkan para perempuan untuk meninggalkan kejahatan sosial seperti kecemburuan, kekejaman, dan kepalsuan, yang sangat merusak harga diri.

Huzur juga memberi nasihat agar para perempuan dapat membentengi harga diri mereka dengan menunjukkan ketangguhan dan kesabaran saat dihadapkan pada kata-kata kasar, memilih untuk mengabaikan hal-hal negatif dan mengembangkan pola pikir yang berfokus pada pertumbuhan pribadi dan hal-hal positif. Yang Mulia mendesak para perempuan untuk menggarisbawahi prinsip-prinsip rasa hormat, cinta, welas asih, dan kebaikan dalam pertemuan mereka untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dan pengertian.

Status perempuan yang sejati dan tinggi sebagaimana diberikan oleh Islam sehingga mereka dapat memainkan peran mereka dalam pengembangan masyarakat dengan cara yang sangat baik. Hal penting dalam meningkatkan rasa percaya diri di kalangan perempuan adalah penekanan kuat pada komunikasi yang efektif.

Kekuatan komunikasi dan pentingnya suara yang kuat dan lantang untuk meningkatkan harga diri di kalangan perempuan. Huzur menggarisbawahi pentingnya mengembangkan suara yang kuat dan tegas, bebas dari keraguan atau kelemahan.

Menurut Yang Mulia Huzur, suara seorang perempuan Ahmadi harus memancarkan kegagahan, semangat, dan kekuatan. Suara itu harus beresonansi dengan kekuatan, keagungan, dan membangkitkan rasa kagum, mewujudkan esensi dari status mereka yang ditinggikan di masyarakat. Dengan demikian, Yang Mulia memberikan cahaya penuntun bagi para perempuan untuk meningkatkan kehidupan pribadi, profesional dan sosial mereka.[4]

 

Penulis: Rahma Roshadi

[1] https://opentextbc.ca/socialpsychology/chapter/the-feeling-self-self-esteem/#:~:text=One%20common%20explicit%20self-report%20measure%20of

[2] Pidato Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) pada Sesi Wanita di Jalsa Salana Jerman 2017

[3] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Malazim, Bab al-Ghurfatu wa al-‘Uliyyatu al-Mushrafah alkh, Hadith #2468), (Sunan Abi Daud, Kitab al-Nikah, Bab fi Darb al-Nisaa’, Hadith #2146

[4] Alfzal 2/7/1926 

Share :

LI Indonesia Update