Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Juwairiyah binti Al-Harits ra – Wanita Paling Besar Berkah bagi Kaumnya

Juwairiyah

Juwairiyah binti Al-Harits adalah salah satu istri Nabi Muhammad saw yang berasal dari Bani Musthaliq. Beliau termasuk wanita yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi’.

Sebelumnya, beliau bernama Barrah namun setelah masuk islam dan dinikahi Rasulullah namanya berganti menjadi Juwairiyah. Setelah dia memeluk Islam, Banil-Musthaliq mengikrarkan diri menjadi pengikut Nabi saw.

Juwairiyah adalah seorang putri pemimpin Banil Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhiraar yang sangat memusuhi Islam. Meski demikian, Hadhrat Juwairiyah adalah seorang yang berparas sangat cantik, luas ilmunya dan juga baik hati.

Sebelumnya, ia menikah dengan Musafi bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah, yang tewas dalam pertempuran Muraisi’ melawan kaum muslimin. Karena keislaman Hadhrat Juwairiyah, seluruh kaumnya yang musyrik dan mengangkat senjata melawan Rasulullah saw menjadi takluk dan turut memeluk Islam.

Hadhrat Aisyah ra menggambarkan sosok Juwairiyah, “Aku tidak pernah melihat seorang perempuan yang berkahnya paling banyak bagi kaumnya dari Juwairiyah.”

Permusuhan Bani Musthaliq

Kisah Islamnya Juwairiyah tak lepas dari permusuhan Bani Musthaliq kepada Islam. Harits bin Abu Dhirar yang menyembah berhala hendak menghalangi dakwah Rasulullah saw di Madinah.

Rasulullah menjadi panglima dalam perang Mustalaq ini. Beliau menunjuk Abu Dzar al-Ghifari sebagai wali sementara di Madinah. Kedua pasukan bertemu di daerah Mu raisi. Bersama pasukan Muhajirin dan Anshar, Rasulullah saw memenangkan pertempuran.

Suami Juwairiyah, Musafi ’ bin Shafwan, turut terbunuh dalam perang ini. Karena kalah perang, harta dan wanita Bani Mushaliq, termasuk Juwairiyah menjadi tawanan kaum Muslimin. Rasulullah pun membagikan tawanan wanita Bani Musthaliq, salah seorang di antaranya Juwairiyah binti Harits yang diserahkan pada Tsabit bin Qais bin Syammas.

Sebagai pemuka kaumnya, Juwairiyah merasakan kesedihan dan beban yang luar biasa akibat kekalahan Bani Musthaliq. Suaminya terbunuh, ayahnya melarikan diri, dan kini dia beserta kaumnya menjadi tawanan kaum Muslimin.

Merasa kasihan dengan beban Juwairiyah, Rasulullah pun bersedia membebaskan Juwairiyah, kemudian menikahinya. Setelah kebebasannya, Bani Musthaliq yang ditawan kaum Muslimin mengikrarkan keislamannya.

Meski cemburu dengan sosok Juwairiyah, Aisyah r.a menggambarkan betapa kehadiran Juwairiyah adalah berkah bagi kaumnya. Selain mendapat kebebasan, mereka juga mendapat cahaya Islam berkat pernikahan Juwairiyah.

Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nama Juwairiyah pun diberikan Rasulullah setelah mereka menikah. Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli shalat.

Setelah Rasulullah saw wafat, Hadhrat Juwairiyah mengasingkan diri dengan hanya beribadah saja dan bersedekah.

LI Indonesia Update