Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Menyegarkan Mata dan Iman dalam Muawanah Gabungan Jabar 5 di Pangalengan

Pangalengan

Pangalengan, Kab. Bandung – Muawanah Gabungan sembari rekreasi, itulah yang dilakukan Lajnah Imaillah Jabar 5 pada Minggu, 19 Mei 2024. Lokasi acara yang terletak di tengah-tengah perkebunan, dengan udara bersih yang jauh dari polusi dan suhu udara sejuk yang menyelimuti.

Acara dimulai pukul 08:30 WIB. Kali ini, Pengurus Daerah Jabar 5 menghadirkan 3 materi penting: Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Ketakwaan dalam Pengorbanan Al-Wasiyat, Menanamkan Nizam Rishtanata kepada Anak-Anak Sejak Dini, dan Hospitality: Sambutlah Saudaramu dengan Ramah, Senyuman, dan Kasih Sayang.

Pada materi pertama yang disampaikan Ibu Rd. Rustika Anggawiria, menyampaikan pentingnya mengikuti tertib baru yang dicanangkan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Al-Wasiyat. Program ini telah diwahyukan kepada beliau a.s. menjelang kewafatannya, sebagaimana yang tertuang dalam buku beliau a.s., Al-Wasiyat.

Salah satu yang disampaikan adalah sabda Hadhrat Rasulullah saw. yang berpesan, “Sesungguhnya engkau akan berada dalam suatu zaman, barangsiapa di antara kalian meninggalkan sepersepuluh dari apa yang diperintahkan, maka ia binasa. Kemudian akan datang suatu zaman, barangsiapa di antara mereka mengamalkan sepersepuluh dari apa yang diperintahkan, maka ia selamat.” [Hadits At-Turmudzi dan Hadits Kanzul Ummal]

Dijelaskan pula bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Dengan kalian membayar pengorbanan bukan berarti pekerjaan-pekerjaan Jemaat menjadi sempurna melainkan maksud yang paling besar dari pengorbanan itu adalah bahwa orang yang pengorbanan harta candah keimanannya akan semakin maju dan kuat. Ini adalah perkara kecintaan dan keikhlasan. Dan kepada ribuan orang yang telah berbaiat kepadaku haruslah mereka berjanji untuk diri sendiri dan jangan ada kelalaian.”

Selanjutnya, Ketua Daerah Jabar 5, Ibu Tita Jelita Suciati, menyampaikan materi kedua. Nizam Rishtanata ini begitu penting untuk ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak kita karena pernikahan merupakan salah satu fondasi yang akan menguatkan keimanan anak keturunan kita.

Hadhrat Muslih Mau‘ud ra. bersabda:

Pernikahan dengan sesama Ahmadi merupakan bentuk pengkhidmatan pada Jemaat Ilahi dan juga perwujudan manifestasi dari bentuk keberserahdirian kita, untuk mengharapkan keridhoan-Nya. Sebab tidak hanya sekedar mengejar hasrat nafsu duniawi belaka. Akan tetapi di dalam pernikahan tersebut terdapat bayangan pendidikan kecintaan terhadap Allah Ta’ala. (Khutbah Mahmud, jilid 3, hal. 376)

Ibu Ketda menyampaikan bahwa anak-anak akan mencontoh orang tuanya. Bila orang tua sendiri cenderung lebih memilih pasangan dari luar Ahmadi, maka anak-anak pun akan memiliki kecenderungan yang sama. Bila orang tua cenderung longgar terhadap anak-anaknya dalam memilih pasangan di luar Ahmadi, maka jangan heran bila nanti keturunannya akan menjadi lost generation.

Karena itu, walaupun di mata kita terkesan terlalu dini, konsep memilih pasangan sesama Ahmadi sudah harus ditanamkan kepada anak-anak kita sejak dini. Bahkan, disampaikan bahwa anak-anak sebaiknya sudah diajarkan doa meminta jodoh yang soleh sejak mereka berusia 9 tahun. Sehingga sampai mereka dewasa, mereka akan selalu ingat betapa pentingnya memilih pasangan sesama Ahmadi.

Dalam materi ini, ada pertanyaan dari anggota: selain tarbiyat, usaha apa lagi yang harus dilakukan untuk mencegah pernikahan dengan ghair Ahmadi? Ibu Ketda pun menjawab agar para orang tua, selain berdoa, juga jangan malu bertanya dan mencarikan jodoh untuk putra-putrinya. Selain mengisi form rishtanata online, orang tua tetap harus aktif mencarikan juga ke para pengurus dan mubaligh juga anggota lainnya.

Materi terakhir disampaikan oleh Ibu Liana S. Syam. Dalam materi hospitality ini, disampaikan betapa pentingnya menyambut tamu, siapapun orangnya, dengan senyum dan wajah berseri-seri. Shamit dari Abu Dzar dia berkata Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Janganlah kamu menganggap remeh sedikitpun terhadap kebaikan, walaupun kamu hanya bermanis muka kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.”

Selain hendaknya menyajikan makanan dengan kualitas terbaik, tuan rumah juga hendaknya menunjukkan sikap terbaik dalam menghadapi tamu. Jangan mengambil topik pembicaraan yang sensitif seperti masalah fisik, masalah pekerjaan, dan lain sebagainya. Memperlakukan tamu dengan ramah, senyuman, dan kasih sayang adalah ajaran Islam. Dan sebagai Muslim Ahmadi, kita harus senantiasa mengupayakan diri untuk bisa mencapai standar yang semakin tinggi dalam pelayanan kepada tamu-tamu yang datang.

Sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih V Al-Khaamis menyampaikan:

Perhatikanlah! Betapa ajaran-ajaran Islam demikian indah. Kita diperintahkan untuk menghormati tamu. Hal ini merupakan petunjuk/perintah yang diganjar pahala. Keramahtamahan dalam menyambut tetamu, yaitu berinteraksi dengan wajah tersenyum, pahala dan ganjarannya seperti beramal sedekah. Bahkan, dengan dua pahala. Satu pahala adalah untuk penyambutan tetamu, dan pahala yang kedua adalah untuk perlakuan yang menyenangkan dan berakhlak baik terhadap tetamu. Berinteraksi dengan sikap dan tindak-tanduk yang baik terhitung sebagai hasanah (keutamaan/kebaikan). Dan hanya Allah-lah yang lebih mengetahui seberapa besar Dia akan mengganjar pahala untuk sebuah kebaikan. (Hz. Khalifatul Masih V, a.b.a, 05 Agustus 2016 di Masjid Baitul Futuh, London)

Setelah materi demi materi disampaikan, tibalah di akhir acara yang kemudian ditutup dengan doa. Setelah santap siang yang dibawa masing-masing oleh peserta dan shalat Zuhur jama’ Ashar, selesailah sudah rangkaian acara Muawanah Gabungan LI Jabar 5 pada hari itu. Semua pihak berharap, semoga kegiatan ini membawa kesegaran pikiran, hati, dan juga keimanan bagi semua yang hadir.

 

Kontributor: Lisa Aviatun Nahar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LI Indonesia Update