Bandung – Di bawah naungan pohon “Taman Balai Kota” yang teduh, Sabtu (18/4) jam 8 pagi, mulai terlihat belasan perempuan muda yang larut dalam hening. Bergerak ke pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, peserta mulai bertambah dan semakin tenggelam dalam sesi silent reading (membaca senyap) yang digagas oleh Klub Membaca SAKURA (Sahabat Buku Jabar 5).
Tanpa distraksi gadget, para peserta yang merentang usia dari 15 hingga 30 tahun ini membawa beragam genre buku untuk dinikmati dalam ketenangan ruang terbuka hijau. Agenda ini tidak lain merupakan upaya untuk mengembalikan kedekatan manusia melalui medium literasi.
Memasuki jam kedua, suasana sunyi perlahan mencair. Salah satu inisiator kegiatan memosisikan diri sebagai “teman duduk” membuka diskusi dengan narasi yang sangat personal. Peserta pun diajak untuk memahami bahwa kehadiran mereka di taman hari itu adalah sebuah keputusan bebas dan jujur, sebuah langkah berani untuk keluar dari zona nyaman tanpa paksaan.
“Terima kasih, teman-teman udah hadir. Butuh keberanian dan kejujuran pada diri sendiri untuk mau dan tidak mau datang di sebuah kegiatan.”
“Kejujuran” kemudian menjadi napas utama dalam sesi berbagi. Para peserta tidak hanya dipersilakan mengulas isi buku yang mereka baca, tetapi juga diajak merefleksikan alasan di balik keengganan mereka dalam beraktivitas sosial selama ini.
Salah seorang peserta memaparkan buku berjudul “Selaras” yang ditulis oleh Dewi Lestari dan Reza Gunawan. Buku ini mengajak pembaca untuk “mempersilakan” pikiran negatif hadir jika memang ia harus hadir.
“Kadang yang bikin kita cemas itu kita terlalu memaksa diri sendiri untuk berpikiran positif. Padahal, kegelisahan atau rasa khawatir juga kadang perlu disapa karena pada akhirnya ia justru akan lewat dengan lebih tenang.”
Di sesi refleksi ini, buku berperan sebagai pintu masuk untuk mendiskusikan masalah sehari-hari dengan lebih dalam, sekaligus meyakinkan para remaja ini bahwa ada generasi “kakak” yang siap mendengar tanpa menghakimi. Salah satunya, dengan mempersilakan peserta membaw buku apapun yang mereka mau, tanpa harus khawatir berbeda genre dengan peserta yang lain.
Peserta lain membagikan buku “Educated” yang menceritakan betapa pendidikan adalah hal penting namun masih menjadi privilege karena berbagai alasan. Buku epic fantasy “Eragon” terlihat terbawa oleh salah satu peserta, di samping buku-buku lain berjenis non-fiksi yaitu: Media Sosial, Filsafat Ilmu dan Filosofi Teras.
Kegiatan yang berakhir tepat pukul 11.00 WIB ini membuktikan bahwa literasi bisa menjadi ruang aman untuk berbagi. Melalui kegiatan ini juga, SAKURA melakuan pendekatan yang inklusif, di mana peserta bebas memilih panggilan akrab tanpa batasan formalitas, juga pilihan buku yang tidak terbatas oleh genre.
Lajnah di Jabar 5 melalui program “Baca di Taman Kota” berupaya membangun rasa aman dan nyaman antar generasi. Kegiatan hari ini bahkan dihadiri juga oleh rekan non-Ahmadi, yang sedikitnya menjadi bukti bahwa melalui kegiatan membaca buku, akan terbangun keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata dan menemukan teman dalam perjalanan yang sama.
Kontributor: Sahabat Buku Jabar 5

