Official Website Organisasi Perempuan Muslim Ahmadiyah

Menjalin Dialog, Meneguhkan Kemanusiaan: Refleksi 100 Tahun Muslim Ahmadiyah di Indonesia

Yogyakarta — Semangat keberagaman dan kemanusiaan terasa hangat memenuhi Aula Koinonia, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, pada Rabu, 6 Mei 2026. Dalam rangka memperingati 100 Tahun Muslim Ahmadiyah di Indonesia, kegiatan Talkshow & Bedah Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: “100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan” berlangsung lancar dan penuh makna, menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai kalangan lintas iman, akademisi, media, hingga komunitas masyarakat sipil.

Sebanyak 101 peserta tercatat mengikuti kegiatan ini, dengan total kehadiran sekitar 120 orang termasuk panitia. Para peserta berasal dari beragam institusi dan latar belakang. Kalangan akademisi mendominasi kehadiran, di antaranya dari UIN Sunan Kalijaga sebanyak 19 peserta, Universitas Kristen Duta Wacana 16 peserta, serta Universitas Gadjah Mada 12 peserta. Selain itu, hadir pula perwakilan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, media, organisasi masyarakat, komunitas lintas iman, hingga lembaga riset dan keagamaan lainnya. Keberagaman peserta menjadi cerminan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu keberagaman, toleransi, dan kerja kemanusiaan.

Kegiatan dibuka dengan sambutan sekaligus keynote speech dari Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, S.T., M.T. Dalam pemaparannya, beliau menuturkan perjalanan panjang Jemaat Ahmadiyah di Indonesia sejak pertama kali hadir pada tahun 1925 hingga kini genap berusia satu abad. Beliau juga mengulas berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi Jemaat Ahmadiyah, baik dari sesama organisasi keagamaan maupun kebijakan negara.

Di tengah berbagai ujian tersebut, Jemaat Ahmadiyah tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi kehidupan beragama dan bernegara, yakni “Laa ikraaha fiddin” atau tidak ada paksaan dalam agama, semboyan “Love for all, hatred for none”, serta ketaatan penuh kepada pemerintah di mana pun berada. Nilai-nilai inilah yang terus menjadi pijakan dalam membangun kontribusi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Sesi bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan perspektif mendalam dan reflektif. Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D., salah satu dari 100 penulis buku tersebut, membagikan pengalaman personalnya sejak masa mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga hingga perjumpaannya dengan komunitas Ahmadiyah dalam berbagai kesempatan. Pengalaman beliau semakin kaya setelah menghadiri Jalsah Salanah di Inggris pada tahun 2024 dan berdialog langsung dengan Khalifah ke-5 Jemaat Ahmadiyah. Momen tersebut, menurutnya, memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai dan praktik kehidupan komunitas Ahmadiyah.

Sementara itu, Dr. Zainal Abidin Bagir menyoroti perjalanan Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai komunitas yang pernah mengalami persekusi namun mampu bertahan sebagai penyintas. Lebih dari itu, beliau melihat adanya transformasi penting dalam tubuh JAI yang kini aktif membela kelompok-kelompok marginal lainnya sebagai bagian dari perjuangan menegakkan keadilan sosial dan kemanusiaan.

Perspektif lintas iman juga disampaikan oleh Pendeta Yunarso Rusandono, MAPS. Dengan penuh empati, beliau mengungkapkan pentingnya membangun ruang dialog dan kerja sama antar komunitas yang kerap mengalami stigma sosial. Menurutnya, pertukaran pemikiran dan keterbukaan antarumat beragama menjadi jalan penting dalam menciptakan masyarakat yang damai, inklusif, dan saling memahami.

Sebagai bentuk diseminasi pengetahuan, panitia turut membuka kesempatan bagi peserta yang berminat memperoleh buku dengan mengisi tautan pengajuan. Para peserta diharapkan tidak hanya membaca, tetapi juga menyebarluaskan isi buku tersebut kepada masyarakat luas sebagai jembatan pemahaman dan pencerahan mengenai keberagaman di Indonesia.

Kegiatan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan juga ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga nilai kemanusiaan di tengah perbedaan. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang semakin menegaskan bahwa dialog dan kolaborasi lintas komunitas merupakan langkah penting dalam merawat kebhinekaan Indonesia.

Semoga semangat yang tumbuh dalam forum ini terus berlanjut dan menghadirkan manfaat luas bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LI Indonesia Update